Rabu, 07 November 2012

Naskah Drama SMA N 11 Kab. Tangerang



CINTAKU NYANGKUT di BLANGKON MU…

Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak muda yang bernama Saksono yang sangat berpegang teguh terhadap budayanya yang berasal dari Jawa Tengah. Dia adalah seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam mengejar impiannya untuk menjadi orang sukses dengan bersekolah di Universitas Tinggi Negeri. Bukan hanya ingin sukses tapi dia juga berjuang ingin mendapatkan cinta sejatinya. Bagaimana mari kita simak ceritanya :
Saksono               :“ Maaf mbak, saya numpang bertanya. Fakultas Tekhnik Informatika ada dimana ya?’’ (dengan wajah polos)
Jenny                    : (dengan nada sombong) “ Eh, penampilan aja katrok kayak gitu nanya gue. Sorry ye gue cuma bisa ngasih tau cowok-cowok yang penampilannya keren.” (lalu bergegas meninggalkan saksono tanpa memberi tahu)
Saksono               : “ Lha kok orang Jakarta itu pada jahat ya ? Opo salah tho penampilanku iki?’’ (dengan wajah melas).
Akhirnya Saksono pun mencari sendiri Fakultas Tehnik Informatika, tetapi di jalan ia bertemu seorang wanita yang sangat baik. Tanpa disengaja saksono pun menabrak wanita itu yang sedang membawa buku.
Shintya                 : “ Aduuhhhh……….”
Saksono               : “ Lah,,,laahh,,, Maaf mbak aku nggak sengaja”. (sambil membantu membereskan buku-buku yang berjatuhan).
Shintya                 : “ Ohh, iya gak apa-apa”. (sambil membereskan buku). “Oya, kamu mahasiswa baru ya?”
Saksono               : “ Injeh mbak, Oiya mbak, aku mau tanya mbak Fakultas tekhnik informatika itu ada dimana tho yo? :ha wong aku itu dari tadi nanya tapi gak ada yang mau ngasih tau, katanya penampilanku ini katrok. Padahal kan aku inicuma ingin melestarikan budaya asli Indonesia mbak, hhhmmmm…..”(wajah ngenes)
Shintya                 : (tersenyum) “Kamu itu lucu ya, kamu ngambil jurusn tekhnik informatika toh? Kalau gitu sama donk sama aku, ya udah nanti ikut aku aja, biar aku kasih tahu.”
Saksono               : “ Makasih ya mbak, mbak’e baik banget.” (wajah malu-malu)
Shintya                 : “ Hehehe,,, ahh biasa aja kok, aku Cuma sekedar membantu saja. Oiya, by the way nama kamu siapa?”
Saksono               : (mengulurkan tangan) “Saksono.”
Shintya                 : (sambil berjabat tangan) “ Shintya.” (lalu melepaskan tangannya)
                                “ Kamu asli orang jawa ya?”

Saksono               : “ Lha kok si mbak bisa tahu begitu?”
Shintya                 : “ Ya iyalaah, ketahuan dari belangkonnya. Bagus dech.” (tersenyum

Pertemuan pertamanya dengan Shintya menjadi awal yang menyenangkan untuk Saksono. Kemudian ada dua orang wanita yang menghampirinya.
Ara                         : “ Hai, nama kamu siapa? Aku Ara, kamu unik banget deh.” (mengulurkan tangan)
Jenny                    : “ Ehh Ara,, itu orang kampung jangan ditanya. Udik, kampungan banget lagi.” (wajah kesal)
Saksono               : “ Aku saksono mbak.” (tersenyum, sambil mengulurkan tangan)
Jenny                    : “ Euuhh,,, gak level banget deh gue salaman sama loe. Dasar belangkon, udik loe!”
Saksono               : “ Udik itu apa ya mbak ? Apa nasi udik yag harganya 3 ribu itu ya mbak ? Aku beli donk mbak.”
Jenny                    : “ Oh my god. Itu nasi uduk. Aarrgghhh,, dasar orang kampung.”

Setelah saksono selesai menemukan kelas barunya di Universitas itu, lalu Saksono pun pulang ke rumah pamannya dan Saksono pun menceritakan hari pertamanya di kampus barunya itu kepada paman elungya.
Saksono               : “ Assalamu’alaikum…..” (dengan raut wajah capek)
Om Elung             : “ Wa’alaikum salam… Gimana le, hari pertama kamu kuliah ?”
Saksono               : “ Alaahh om, orang Jakarta itu perempuannya judes-judes yo… Lha wong aku ki di ejek orang kampung gitu om.”
Om Elung             : “ Sabar yo le… Ya memang gitu kalau orang kampong seperti kita baru pindah ke Jakarta.”
Saksono               : “ Weleehh, tapi om, tadi itu juga ada lho, perempuan yang baik banget, ngomongnya juga halus pokoknya cuantiik om.”
Om Elung             : “ Kamu suka yo sama permpuan itu ?”
Saksono               : “ Alaahh, opo tho om ? Baru juga kenal kok om.” (tersipu malu)
Om Elung             : “ Alaahh… west ho bilang aja sama om.”
Saksono               : “ Ahh.. Mboten om.” (Saksono masuk ke kamarnya dan meninggalkan om elung di ruang tamu)

Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Saksono bergegas bangun dan siap-siap berangkat kuliah. Dan di jalan bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Dayut.

Dayut                    : (tiba-tiba Dayut menabrak Saksono yang sedang berjalan). “ Haduuhh,,, sorry bro…!!”
Saksono               : “ wess, gak apa apa tho mas.”
Dayut                    : (sambil berjabat tangan degan Saksono) “ Wess bro, gay aloe. Keren juga, ini juga belangkon tahun berapa, udah bulukan ?”
Saksono               : “ Wooh, apa tho mas, aku ini Adhitya Saksono Widyodiningrat, bukan Bro.”
Dayut                    : “ Hahaha, oke oke, terus gue harus panggil loe apa nih ?”
Saksono               : “ Panggil Saksono aja mas.”
Dayut                    : “ Oke, waah gue suka gaya loe bro. Jarang-jarang jaman sekarang ada orang kayak loe yang mencintai budaya Indonesia.”
Saksono               : “ Iya mas, aku ini masih baru di sini, pakaianku pun masih asli dari jawa lho mas.”
Dayut                    : “ Ohh… (sambil manggut-manggut) “ Oiya, kenalin gue Ahmad Hidayatullah, panggil aja Dayut.”
Saksono               : “ Oke mas bro.”
Percakapan antara Dayut dan Saksono membuat mereka semakin akrab. Dayut menjadi satu-satunya teman yang Saksono percaya dan selalu menemaninya, tidak seperti tean-teman yang lain yang selalu mengejeknya. Untuk melanjutkan kisahnya, mari kita simak bersama-sama.
Shintya                 : (membaca buku, sambil senyum-senyum sendiri)
Caca                       : “ Wey, kenapa loe ?”
Zila                         : “ Waah, ni anak stress kali ya. Baca apaan sih?”
Shintya                 : “ Eh, kalian sudah selesai ?”
Caca                       : “ Dari tadi Shin, Loe gila ya ? Baca buku komputer kok malah senyum-senyum sendiri.”
Shintya                 : “ Hahaha… Gak kok, aku gak baca buku cuma inget si Saksono aja.”
Zila                         : “ Haa ?? Siapa tuh ?”
Shintya                 : “ Penasaran ya ? Hayoo ke kelas, nanti juga ada dosen yang ngenalin.”
Zila & Caca           : (bengong dan kebingungan)
Seorang Dosen Mengenalkan Saksono.
Dosen                   : “ Apa ? Enak aja kamu panggil-panggil saya om,saya ni Dosen paling Ganteng di sini. Ngerti kamu.”
Saksono               : “Hehe.. iya pak, ma’af.”
                                (dengan wajah Malu-Malu dan Bingung karena Melihat Dosennya Mirip dengan Omnya).
Dosen                   : “Kamu Mahasiswa baru ya, hayo masuk, saya dosen pembimbing kamu.”
                                (mengantarkan Saksono masuk).
Keadaan kelas Sangat kacau.
Dosen                   : “ Hey, hey.. Selamat Pagi.”
Mahasiswa & mahasiswi   : “ Pagi….”
Jeane                    : “Haa, ada belangkon tuh pak yg ngikutin bapak.”
                                (semua o rang mentertawakan).
Caca                       : “Shin, maksud loe ini?”
Shinta                   : “Hehe, iya lucu kan?”
Zhila                       : “Gila, loe.”
Dosen                   : “Eh, sudah kalian jangan ribut. Nih, kita kedatangan mahasiswa baru yg sangat berpegang teguh terhadap budaya. Bagus ni… Ya sudah kenal kan diri kamu.”
Saksono               : “Halo teman-teman ?”
Semua                  : (Tertawa melihat penampilan saksono)
Saksono               : “Maaf, kok ketawa kenapa ya?”
Dayut                    : “Eh.. Kalian jangan kayak gitu donk.. Itu temen gue..”
                                   Lanjut masbro….
Saksono               : “Matursuwun. Perkenalken ama aya Aditya Saksono Widyodiningrat.”
Semua                  : “ Hahaha… Namanya Aja kampungan banget."
Saksono pun duduk di bangku Kuliahnya Dan Mata Kuliah pun Bekerja Dengan baik,Hari,demi hari dijalaninya,dan Semakin tertlihat bahwa Saksono adalah Mahasiswa yang Sangat pintar dan cekatan,Semua teman–temannya pun kagum kepadanya.lalu Dayut Menyarankan Agar saksono merubah Penampilannya .
Penasaran Mari kita Lihat Percakapannya:
Dayut                    : (Mendengar Musik dengan handset,sambil bernyanyi-nyanyi & berjoget)
Saksono               : “Wey, lha sampean iki apa stres toh mas bro?”.
Dayut                    : “Eh, ada Mas brooo, kenapa?”
Saksono               : “Kayaknya, aku ini suka dech sama mbak shintya “.
Dayut                    : “ Haa?” (menertawakan Saksono)
Saksono               : “Kenapa salah ya?” (bingung)
Dayut                    : “Gak lah, ya setiap cowok juga kalau melihat shintya pasti suka,
                                tapi, kalau melihat penampilan loe, loe pasti bakalan kalah dalam pertarungan.”
                                ( saksono berfikir)
Saksono               : “Pertarungan? Aku kan pingin mendapatkan cintanya Shintya, bukannya mau bertarung, mas Dayut piye toh ?”
Dayut                    : “Dasar onyon, maksud gue pertarungan mendapatkan cintanya Shintya,”
Saksono               : “Ooh, gitu toh, hmmm (dengan wajah putus asa)
Dayut                    : “Hmmm.”(sambil melirik Saksono)
Saksono               : “Piye toh, mas Dayut.”
Dayut                    : “Mau gue bantu gak?’
Saksono               : “ Nggeh-nggeh mas, mau aku” (mengangguk)
Dayut                    : “  Hayo ikut gue.”(Mengajak Saksono Keluar)
                Jam Sudah Menunjukkan Pukul 22:00 WIB.
Tapi Saksono belum juga pulang kerumah.Omnya menunggunya Sampai tertidur di kursi.Hingga akhirnya Pagi haripun tiba,Sang Mentari Mulai Muncul,Saksono Sangat mengejutkan Omnya.
Pingin tahu?? Lihat Lanjutannya.
Om                         : “(Tertidur Pulas dikursi)
Aditya                   : “Ehemm,, Om…”(Sambil membangunkan Omnya)
Om                         Hmmm(dengan Wajah lagu lalu terkejut)
                                Haa? Siapa kamu?Kenapa bisa masuk kesini?
Aditya                   : (dengan wajah tersenyum)”Omm, ini aku Aditya Saksono widyaningrat.”
Om                         : “Haaaa?” (dengan Wajah bingung Sambil  melihat Aditya dari atas sampai bawah). Ganteng men kamu saksono.”
Aditya                   : “Ettth, no, Om aku sekarang aditya bukan saksono.(Sambil tersenyum)
Om                         : “Ko bisa sih, kamu.”
Dayut                    : “Hay, Om, Assalamu’alaikum…”
Om & Aditya      : “ Wa’alaikumsalam…”
Aditya                   : “ Ini dia om, yang permak aku”
                                “ya sudah om, aku berangkat kuliah dulu ya.”
Semua orang di kampusnya tidak mengenali Saksono, semuanya sangat terkejut melihat penampilannya. Bahkan Jenny pun yang tadinya sombong, sekarang sagat menyukai Aditya karena penampilannya yang sangat keren.
Caca                       : “ Hhmmm, kalau begini terus kapan selesai skripsi gue ?”
Zila                         : “ Ca, sumpah ada berita heboh.”
Caca                       : “ Berita apa ?”
Zila                         : “ Si Saksono udik belangkon itu berubah drastis.”
Shintya                 : ( Terkejut) “ Apa ? Serius ?”
Caca                       : “Ciiee, lelucon loe udah gak ada dong ?”
Shintya                 : “ Apaan sih loe ?”
Zila                         : “ Ssstt, ada orangnya tuh .”
Aditya                   : “ Shintya.” (mendekati shintya)
Dayut                    : (menarik caca dan zila keluar)
Caca & Zila           : “ Apaan sih loe ? Sakit tau.”
Dayut                    : “ Sstt diem.”
Aditya                   : “ Kamu besok ada acara nggak ?”
Shintya                 : “ Haa ? Bicara ?”
Aditya                   : “ Bukan, maksud aku A_CA_RA. Ada gak?”
Shintya                 : “ Ohh, iya tergantung. Sekarang sih belum ada janji.”
Di sisi lain Jenny sedang mendengarkan pembicaraan Aditya dengan Shintya dengan wajah kesal.
Ara                         : “ Kenapa loe ? Cemburu ya ?”
Jeny                       : “Dasar,cewe genit,centil,penggoda”.
Ara                         : “Apa?lu bener jelous?
Jeny                       : “mmmm,gak ko.”
Ara                         : “Alah,jangan muna dech,tar gue ambil luh. Sekarangkan Saksono keren abiss.gak kalah sma dayut.”
Jeny                       : “Eh,dy thu Aditya, gebetan gue yang baru. Pokoknya loe harus bantu gue supaya gue deket sama dia dan gue mau acara dia sama cewe penggoda itu batal, dan Aditya  jadi benci sama Shitya.”(dengan wajah yang kesal sambil membejak-bejak tangannya)
Ara                         : “Hmmm, benci jadi cinta. Makanya jangan suka ngledek.”
Lalu, Jeny berusaha menghasut Aditya agar Aditya tidak suka dengan Shintya.
Jeny                       : (datang mendekati Aditya).”Hmm dasar perempuan penggoda.”
Aditya                   : “Jeny, kamu kenapa?.”
Jeny                       : “Eh, Aditya, kamu keren banget. Aku mah cuma ngingetin aja kekamu kalau si Shintya itu wanita penggoda.”
Aditya                   : “Masa siih…?”
Jeny                       : “Hmmm, kamu mah belum tau aja, mari dech aku buktiin, liat dech sana!”
(melihat Shintya sedang berduaan dengan cowo lain lalu Aditya membentak).
Aditya                   : “Hey, dasar wanita murahan.”(Wajah marah)
Shintya                 : “Saksono? Ini gak seperti yang kamu lihat.”
Dengan kejadian seperti itu akhirnya Aditya dan Shintya bertengkar sangatlah heboh.
Jeny                       : “Thank ya, loe udah bantu gue, ini buat loe.”
                Shintya sangat sedih,karena Shintya merasa  sangat bersalah.lalu Shintya menceritakan kejadian itu kepada kedua sahabatnya.
Shintya                 : (Menangis)
Caca                       : “Shintya, loh kenapa ? Shin kamu kenapa?”.
Zila                         : “Shin, kenapa?”
Shintya                 : “Saksono”.
Caca                       : “Kenapa sama saksono?”.
Zila                         : “Aditya kali buu..”
Caca                       : “Iih, apan sih loe, siapa itu bodo, yang penting gue tau temen kita kenapa?”
Shintya                 : “Saksono melihat aku sedang berduaan dengan Max, tapi, Max Cuma bantu aku waktu mata aku kemasukan debu, jadi Saksono mengiranya aku mau ciuman .”(Sambil menangis)
Caca                       : “Ya ampun, hmmm…”
Zila                         : “Ya udah lah Cuma gitu aja, loe kenapa nangis, dia kan bukan siapa2 lo.”(dengan wajah kesal)
Shintya                 : (Menangis lebih kencang).”Hmmm, kok kamu ngomong gitu sih?”
Zila                         : “Gue salah ya ?”(bebisik dengan caca)
Caca                       : “Hmmm, dasar unyun, usffft, diem.”Emmm, Shin? Jujur sama gue ya loe suka ya sama si Adit?
Shintya                 :“Gue suka Sma saksono”.
Caca                       :“Tapi kandya sekarang Aditya yang penampilannya keren.”
Zila                         :“Eh, ca biarin lah bagusan Saksono sekarang modivikasi tahun 2012 dari pada belangkon.”
Shintya                 :“ Tapi gue suka dya waktu make belangkon ,tapi sekarang juga sih,eh kalian bantu gue dong.”
                Caca dan Zila pun berfikir mencari jalan keluar dari masalah ini lalu,akhirnya caca memutuskan untuk menjelaskan kepada Aditya tentang kebenarannya. Ketika Aditya sedang berjalan, Caca memanggilnya.
Caca                       :“ Aditya, tunggu sebentar.” (dengan nada agak kesal dan nada tinggi)
Aditya                   :“ Ada apa ca?”
Caca                       :“ Gue mau ngomong sama loe, masalah Shintya.”
Aditya                   :“ Udah lah, gue males bahas Shintya.” (Aditya berjalan dan meninggalkahn Caca)
Caca                       :“ Eh… dit, loe tuh salah faham sama Shintya. Dengerin gue, sebenernya Shintya tuh sayang sama loe, dia cinta sama loe.” (sambil berteriak)
Aditya                   : (tertegun dan berbalik arah untuk mendengarkan penjelasan Caca.”
Caca                       :“  Dit, sebenernya loe tuh salah faham, kemarin Max Cuma bantuin Shintya, karena matanya kemasukan debu, sekarang gue tanya sama loe. Apa pernah Shintya berperilaku berlebihan ke cowok? Enggak kan?”
Aditya                   :“ Iya juga sih.” (dengan wajah menyesal)
Caca                       :“ Shintya cerita banyak sama gue, sebenernya dia sayang sama loe.”
Zila                         : (dengan muka kesal ke Aditya dan berbicara)
                                “ Eh… Loe dah buat sahabat gue nangis, sebenernya Shintya tuh suka sama loe apa adanya. Jadi loe gak usah deh repot-repot ubah penampilan loe !”
Aditya                   : (dengan muka merasa bersalah). “ Terus sekarang Shintya mana?”
Caca                       :“ Dia udah balik duluan.”
Aditya langsung pulang ke rumah dan segera menghubungi Shintya, namun Handphone shintya tidak aktif.  Aditya merasa bingung dan harus bagaimana untuk meminta maaf kepada Shintya. Kemudian Aditya menghubungi Dayut.
Aditya                   :“ Hallo?”
Dayut                    :“ Iya, nie siapa?”
Aditya                   :“ Dayut, nie gue Saksono.”
Dayut                    :“ Lah kok Saksono? Bukan Aditya ?”
Aditya                   :“ Gue gak mau dipanggil Aditya, gue mau jadi diri gue sendiri sebagai Saksono.”
Dayut                    :“ Oh, terus ada apa nie bro, tumben telfon gue?”
Aditya                   :“ Bantuin gue buat ngomong sama Shintya, ternyata dia gak ada apa-apa sama Max.”
Dayut                    :“ Ya ya ya, tapi besok aja ya, malem ini gue mau tidur bro.”
Aditya                   :“ Aahh… Tidur mulu kerjaan loe.. Tapi beneran ya besok bantuin gue?”
Dayut                    :“ Iya, iya besok gue bantuin.”
Aditya tidak bisa tenang pada malam itu, dia merasa bersalah kepada Shintya, semalaman dia memikirkan apakah Shintya mau memaafkan kesalahannya. Dan dia pun menyanyikan sebuah lau dari Kerispatih yang berjudul “Kesalahan Yang Sama”.
Sang fajar pun telah datang, Aditya bergegas berangkat kuliah dan ingin cepat-cepat bertemu dengan Shintya. Dan sesampainya di kampus, Aditya pun mencari shintya.
Aditya                   :“ Caca, Zila, kamu liat  Shinya gak?” (dengan raut wajah cemas dan penasaran)
Zila                         :“ Enggak, semalem gue telfon tapi gak aktif.”
Caca                       :“ Eh,, kok kamu kembali lagi jadi Saksono yang dulu?”
Aditya                   :“ Iya, ini diri aku yang sebenarnya, yaudah aku mau cari Shintya dulu ya.”
Aditya mencari-cari Shintya, namun tidak ketemu juga. Sampai jam kuliah dimulai pun belum ketemu juga. Akhirnya Aditya masuk ke kelas dengan wajah lesu.
Jenny                    :“ Loh, kok si Aditya penampilannya kayak gitu lagi sih? Iih biki gue il feel lagi deh.”
Ara                         :“ Hahaha.. Loe sih, sukanya malah sama orang ndeso, dari awal udah ndeso akhirnya ya tetep ndeso.”
Tiba-tiba Shintya datang berbarengan dengan dosen Nia.
Caca                       :“ Shin, kok kamu bareng sama doen nia? Tadi si Aditya nyariin kamu tau.”
Shintya                 :“ Iya, tadi aku ketemu dosen Nia dulu, makanya aku bareng sama dia.”
Aditya senang melihat Shintya masuk, dan langsung berbicara dengan Dayut.
Aditya                   :“ Dayut, gimana nih?”
Dayut                    :“ Kalau loe emang jentel, loe minta maaf dan tembak si Shintya di depan gue dan temen-temen.”
Aditya                   :“ Kan ada bu Nia?”
Dayut                    :“ Aah, bu Nia mah gampaang.”
Aditya                   :“ Serius loe?”
Dayut                    :“ Udan sanaa…!”
Adiya pun tiba-tiba maju ke depan kelas dan dia meminta izin kepada bu Nia untuk mengungkapkan sesuatu.
Aditya                   :“ Bu, maaf ya bu, aku mau mengumumkan sesuatu ke temen-temen semua, sebentar aja yo bu?”
Bu Nia                   :“ Tentang apa?”
Aditya                   :“ Pokoknya penting, boleh yo bu? Pliis?”
Bu Nia                   :“ Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya Saksono?”
Aditya                   :“ Makasih yo bu?”
Bu Nia                   :“ Iya.”
Aditya                   :“ Teman-teman semua, aku mau minta waktu kalian sebentar. Tolong dengerin ya. Shintya, aku minta maaf ke kamu aku sudah salah faham sama kamu dan nuduh kamu yang enggak-enggak. Shintya, sebenernya aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, Cuma kamu yang cinta aku apa adanya. Kamu mau kan maafin aku? Dan apakah kamu mau jadi pacarku?”
Shintya                 :“ Ya… Aku udah maafin kamu.” (dengan wajah yang sedih)
                                “ Aku sayang kamu tuh apa adanya, jadi kamu gak perlu rubah penampilan kamu.”
Aditya memegang tangan Shintya dan menyanyikan reff dari lagu kerispatih yang berjudul “Kesalahan Yang Sama”. Belangkon yang dipakai Aditya jatuh, dan Shintya memakaikannya kekepala Aditya.
Shintya                 :“ Saksono, aku juga cinta sama kamu, aku mau jadi pacarku. Karena, CINTAKU NYANGKUT DI BELANGKONMU.”
Suasana kelas pun menjadi ramai dan penuh suka cita.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar